Opini

Sudah Rajin Berdoa, Hidup Gak Berubah, Salahnya di Mana?

Oleh Baba Ch. Makmun

0818-94-09-68

www.facebook.com/ch makmun

“Kami sudah berdoa sejak lama, hampir tiada jeda, sampai kami lelah, tapi hidup tak berubah, malah kian susah.” Ini merupakan keluhan anak belia. Barangkali juga keluhan orang dewasa, namun mereka simpan saja di hati, tidak mengungkapnya ke publik.

Pertanyaan semacam ini sebenarnya sangat wajar. Sebab, dalam praktek, banyak orang sudah berdoa, namun tidak kunjung dikabulkan. Doa tentu saja dialamatkan kepada Tuhan. Kalau doa belum terkabulkan, apakah Tuhan berdusta? Sebab, di dalam kitab suci Alquran Tuhan bilang “berdoalah kepada-Ku niscaya aku kabulkan”.

Dalam konteks duniawi—bukan ukhrawi—doa dibagi 3 tingkatan. Peringkat pertama adalah doa dalam bentuk ‘cipta-karya-kerja’. Setiap aktivitas untuk menelurkan cipta-karya-kerja pada hakikatnya adalah doa. Begitu pun pegawai di pemerintahan, perusahaan swasta, atau professional mandiri. Kegiatan mereka itu pada dasarnya bermuatan doa.

Sebab, dalam cipta-karya-kerja terkandung niat, harapan, keinginan, dan sasaran yang kesemua itu merupakan komponen doa. Doa dalam bentuk ‘cipta-karya-kerja’ paling gampang dikabulkan Tuhan, dan dalam tempo cepat.

Di peringkat kedua adalah doa dalam bentuk ibadah sesuai tuntunan agama, misalnya salat dalam Islam. Dalam ibadah salat, terhimpun serangkaian kalimat yang harus dilantunkan yang berwujud doa, seperti ketika duduk di antara 2 sujud.

Peringkat ketiga atau yang terakhir adalah ‘doa lisan’ atau berdoa dengan rangkaian kata-kata. Doa lisan dapat dilantunkan dengan serius, tapi bisa juga santai. Doa lisan boleh dipanjatkan kapan saja, yang penting bukan waktu terlarang untuk berdoa.

Yang sering terjadi, kita mengutamakan ‘doa lisan’. Ada kalanya kita baru khusyu berdoa siang-malam saat belum mendapat pekerjaan atau saat kehilangan pekerjaan. Kita mohon, “berilah kami pekerjaan ya Tuhan….” Setelah bedoa, kita menanti. Hampir tak melakukan sesuatu yang berarti.

Doa peringkat kedua dan ketiga ini menjadi hak istimewa Tuhan. Kapan dikabulkan, 100 persen urusan Tuhan. Manusia tidak bisa ambil bagian. Kita harus menerima apa yang Tuhan sajikan.

Berbeda dengan doa tingkat pertama ‘cipta-karya-kerja’. Hampir 100% dikendalikan manusia. Kita bahkan dapat dengan leluasa menentukan kapan doa akan dikabulkan.

Orang-orang yang giat bercipta-karya-kerja umumnya jarang berdoa lisan. Bahkan, ada yang sama sekali gak pernah berdoa lisan. Tapi, hidup mereka berkelimpahan. Mengapa? Sebab, orang tipe ini pekerja tekun yang tak kenal menyerah. Dan, ‘kerja tekun’ memiliki kandungan ‘serius berdoa’.

Banyak pekerja di Jakarta tinggal di kota Depok, Bogor, Bekasi, dan Tangerang. Mereka harus berangkat pukul 5.00 pagi. Mereka pulang sampai rumah pukul 20.00-21.00 malam. Mereka pekerja keras. Hidup mereka umumnya berkecukupan.

Sebaliknya, orang yang ekonominya pas-pasan biasanya rajin melantunkan ‘doa ibadah’ dan ‘doa lisan’ serta meninggalkan doa “cipta-karya-kerja’.

Ketika doa lama tidak terkabulkan, mereka jadi “baperan”. Lantas meluncurkan keluhan. Mereka menyalahkan keadaan, mengkritik lingkungan, berprasangka buruk pada kemapanan, bahkan mencerca dan menista pemerintahan.

Meski banyak berdoa, hidup mereka terus berkekurangan. Banyak utang kiri-kanan. Untuk memenuhi kebutuhan paling dasar pun, mereka serba kerepotan. Ada yang frustrasi lantas mengambil jalan ke dunia penipuan, pencurian, perampokan, dan perbegalan.

Lantas gimana solusinya?

Doa harus dilanjutkan. Sebab, doa adalah tali penghubung kita dengan Tuhan. Tapi, paradigmanya harus diubah. Berfokuslah pada doa ‘cipta-karya-kerja’. Doa lisan hanya sebagai tambahan.

Jika kita semua, bukan hanya anak belia, memprioritaskan doa ‘cipta-karya-kerja’, Tuhan senang dan cepat mengabulkannya.

Setelah itu, keluhan seperti “sudah lama berdoa, tapi hidup tak kunjung berubah” otomatis sirna, berganti dengan senyum-tawa penuh ceria. (*)