Berita

Harga Bawang Putih Bikin Gaduh, Polri Diminta Turun Tangan

Para ibu rumah tangga menjerit,  menyusul terus melangitnya harga  bawang putih dan cabai rawit  di pasar tradisional.  Masyarakat mencurigai, ada spekulan yang menjadi biang keroknya,

Anggota komisi III DPR RI Arteria Dahlan mendesak Kapolri  menurunkan anggotanya ke pasar dan gudang-gudang importir. Sebab, harga jual bawang putih sudah brutal jauh diatas harga eceran tertinggi (HET) Rp 32 ribu/kg, dan mengindikasikan adanya kartel.

“Sudah brutal ini, HET Rp32 ribu per kilogram tapi dijual lima puluh ribu sampai tujuh puluh ribu per kilonya. Kapolri agar mengaktifkan atau mengefektifkan kembali Satgas Pangan, tangkap itu kartel, para mafia bawang putih,” pinta Arteria  kepada  awak media, Kamis (6/2/2020) di Jakarta.

Ia meminta agar teman-teman di kepolisian segera turun ke lapangan dan periksa ke gudang-gudang. Petugas kepolisian adalah instansi berwenang, dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan, untuk m3mbongkar, beragam sekulasi yang berkembang di masyarakat.

“Kalau mereka alasan tidak tau gudangnya, saya yang antar ke gudangnya adanya dimana,” tegas Arteria.

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) ini  meyakini,  nanti bisa ketahuan pelaku  penimbunan, yang  berindikasi kartel bermain kembali saat ini,.

Anggota Komisi III DPR RI inj sangat  prihatin, sekaligus kecewa karena masalah bawang putih terulang setiap tahun menghadapi permasalahan yang serupa. Harga naik dikarenakan pasokan ditahan-tahan oleh importir-importir nakal demi mendapatkan keuntungan yang berlebihan.

Berdasarkan pemberitaan dan laporan para pedagang du pasar-pasar tradisional,  kenaikan harga bawang putih sudah tidak wajar. Penyakit lama kambuh lagi karena kartel bawang kembali bermain. Harga bawang putih di pasar Induk Kramat jati kini berkisar antara Rp 50 ribu – 60 ribu/kg, bahkan di pasar tradisional Cilengsi Bogor sudah Rp 70 ribu/kg.

Padahal katanya modal beli dari Cina sekitar Rp 20 ribu-an per kilogram, dan ini sudah dihitung termasuk biaya impor, transportasi, operasional, dan lain-lain nya. Bila dijual dengan harga Rp 55 ribu/kg saja dengan kebutuhan 40 – 45 ribu ton per bulan, keuntungan yang diperoleh Kartel bawang sudah mencapai Rp 1,5 triliun, angka yang luar biasa.

Apabila harga semakin naik lagi, keuntungan lebih berlipat. “Ini permainan biadab, margin yang diperoleh tidak ber prikemanusiaan kalau sampai harganya lima puluh ribu apalagi tujuh puluh ribu per kilogramnya,” terang Arteria.

HET sudah ditentukan oleh Kementerian Perdagangan di Rp 32.000 per kilogram. Dengan modal hanya Rp 20.000 per kg, seharusnya importir bisa menjual di harga Rp 25 – 26 ribu/kg, itu baru keuntungan yang wajar.

Dengan transaksi brutal seperti sekarang ini, Arteria menilai bisa mengarah ke subversi . “Saya akan sidak sendiri datang ke gudang-gudang nggak perlu pake polisi, toh nanti polisi akan datang juga. Ini  harus ada sanksi yang tegas karena urusan perut rakyat,” jelasnya.(BN/Ari).