Metropolitan

Manfaat Pohon Badur Dari Kosmetik Hingga Jadi Milyarder

Dari sisi penampilan, pohon badur  serupa dengan suweg dulu di jakarta mudah ditemui di kebun atau pinggiran kali ciliwung. Pohon badur  dengan mempunyai ciri buah di cabang tangkai daun.

Pohon badur  termasuk tumbuhan bermarga Amorphophallus. Secara penampilan, pohon badur  tumbuh dengan tangkai tunggal atau batang bercorak belang-belang hijau-putih sampai-sampai pohon ini punya sebutan pohon pas-pasan ular, karena motif dan warna batangnya yang menyerupai hewan melata itu. Tangkai kemudian menjulurkan cabang-cabang sebagai tangkai daun.

Pohon badur  hanya bisa tumbuh di bawah pepohonan penyangga seperti pohon jati atau pohon besar lainnya dan ditempat yang rindang. Ia akan gagal tumbuh di area persawahan. 

Tanaman ini, ternyata memiliki manfaat bagi kesehatan. Umbi yang tertanam di dasar tungkai yang bisa diproduksi dan diolah menjadi produk kesehatan dan kecantikan. Karena kaya manfaat, pohon badur  juga berpotensi untuk dikomersilkan, bahkan untuk pasar ekspor.

Manfaat, pohon badur  banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air. Selain itu, juga untuk pembuatan lem dan jelly yang beberapa tahun terakhir kerap diekspor ke negeri Jepang.

Daun-daun pohon badur  dipakai sebagai makanan ikan gurami di kolam-kolam. Dahulu, di Jakarta, daun-daun ini, tongkol buahnya, dan tangkai daun dan buah setelah dikikis kulitnya, dimasak sebagai sayuran.

Kini pohon badur banyak di budidaya terutama di Jawa tengah dan Jawa Timur ternyata pohon ini tidak hanya kaya manfaat tapi juga mampu mengangkat harkat dan derajat para petani yang menanamnya.

 Diantaranya bapak Paidi dan Ny. Sarjiman, sebagai pedagang atau ‘juragan’ si badur satu-satunya di Kebumen, Ny Sarjiman mampu mengirim 6 hingga 7 ton umbi basah ke sebuah pabrik pengolahan umbi  si badur di Jawa Timur. Dalam sebulan, dirinya bisa 3 sampai 4 kali melakukan  pengiriman umbi basah. Sedangkan pengiriman umbi kering dilakukan 1 kali, yaitu di akhir musim panen.

“Biasanya di akhir musim panen atau sudah jarang turun hujan, umbi saya  rajang setebal 1 sentimeter, kemudian dikeringkan dan dikirim dalam keadaan  kering,” jelas Ny Sarjiman yang sudah 20 tahun lamanya menjadi juragan walur.

Begitu juga Paidi, pria 37 tahun yang tinggal di Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, ini menjadi seorang miliarder setelah membudidayakan pohon badur . Dulu pria berambut gondrong itu hidup serba-kekurangan, bahkan pernah jadi pemulung. Kini Paidi banyak diburu para investor yang ingin berguru dan menanam pohon badur. Ternyata alam telah memberikan kita segalanya tinggal bagaimana kita mampu memanfaatkan dan mengeksplorasi semua kandungan yang terdapat didalamnya. (ist)